Inspirasi dan Legacy Prof Sediono Tjondronegoro untuk Petani

Memori 21 April 2016 tiba-tiba muncul di layar Facebook. Seperti diingatkan tentang sosoknya di Hari Kartini. Memori photo saat saya tengah bersama dua guru agraria, Prof. Sediono MP. Tjondronegoro dan DR. Gunawan Wiradi. Saat itu daya ingat Prof. Tjondro masih kuat mengikuti rapat organisasi Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA).

Pak Tjondro, begitu kami memanggil, selalu mengingatkan saya dan para aktivis maupun koleganya tentang Indonesia yang belum juga memiliki _National Land Use Planning._ “Negara harus mempunyai rencana tata guna tanah secara nasional”, pesannya berulang.

Dalam visi Pak Tjondro, ini penting agar tanah-tanah di Indonesia memiliki rencana semesta nasional tentang penguasaan, penggunaan dan penataan tanah sebagaimana menjadi prinsip utama UUPA 1960. Berapa persen pengalokasian tanah harus dipenuhi untuk pertanian pangan agar diproteksi, tanah untuk petani-petani, tanah untuk pemukiman, bisnis, desa, perkotaan, wilayah pertambakan, padang pengembalaan, sumber mata air yang dilindungi, fungsi hutan dan sebagainya.

Dengan begitu, situasinya tidak seperti sekarang, tanah begitu saja dikonversi peruntukkannya. Tukar guling tanah dan sumber-sumber agraria berorientasi bisnis semata, konflik agraria dimana-mana. Pembangunan tidak mempertimbangkan daya _survival_ bangsa kita dalam menjamin fungsi-fungsi pertanahan tersebut secara sosial, ekonomi, budaya, religi, dan politik.

Kritik yang disampaikan secara santun, itulah ciri khasnya. Pak Tjondro seorang ningrat, keturunan bangsawan Tjondronegoro (bapak) dan Arungbinang (ibu). Beranjak dewasa jiwa nasionalismenya memanggilnya untuk bergabung menjadi tentara nasional.

Satu pagi yang tak akan saya lupakan, dalam Rapat KPA, tiba-tiba ia bercerita mengapa begitu cinta kepada petani dan merasa berhutang serta berikrar janji mengabdikan keilmuannya untuk nasib petani. Satu peristiwa di masa perang kemerdekaan, ia terkena ledakan bom. Menghancurkan tangannya, yang mengakibatkan cacat permanen tangan Pak Tjondro.

Saat terluka diselamatkan keluarga petani yang begitu miskin tetapi penuh kasih padanya. Keluarga petani itu telah merawat luka dan menyelamatkannya di masa perang. Sejak saat itu rasa terima kasih terbenam, bersamaan dengan kerisauannya. Keluarga petani yang baik itu begitu miskin. Saat menceritakannya pada kami, tak seperti biasanya matanya berkaca-kaca. Kami merinding. Sesuatu yang tak pernah kami lihat, sosoknya yang biasa tenang, pagi itu cukup emosional.

Singkat cerita, lepas dari ketentaraannya, selanjutnya Pak Tjondro mengabdi di dunia kampus. Ia menjadi Guru Besar di IPB. Buku-buku agraria, pertanian dan pedesaan karya beliau menyiratkan rasa-rasa itu. Kecintaan pada petani, agraria dan pedesaan. Karya-karyanya dan buku biografinya dapat kita nikmati untuk menelusuri rekam jejak pemikirannya.

Beberapa hari setelah kesaksiannya di masa perang, sebelum ingatannya perlahan memudar, saya masih menerima sepucuk surat dari Pak Tjondro. Beliau menitipkan pesan disertai satu bukunya “Negara Agraris Ingkari Agraria: Pembangunan Desa dan Kemiskinan di Indonesia”. Ia berpesan untuk menyampaikan buku ini kepada Presiden, mengingatkan amanat reforma agraria. Sayangnya buku itu belum dapat saya sampaikan kepada yang dimaksud.

Kini ingatannya memudar. Ia hampir tak mengingat kami dan yang lainnya. Sedih jika mengingatnya. Gunawan Wiradi pun sempat menyampaikan kerisauan perihal kondisi Pak Tjondro. Wajar, sebab duetnya berpikir dan jalani sejarah dalam suasana batin yang relatif sama tak ada lagi.

Meski ingatannya memudar, namun ajarannya, teladannya melekat kuat di hati dan pikiran para aktivis agraria.

Hubungannya dengan Kartini? Secara pertalian darah, Pak Tjondro terhitung ponakannya Kartini. Bupati Rembang, adalah keturunan trah Tjondronegoro, yang membolehkan Kartini belajar, memanggil guru untuk mengajarinya. Awal mula perjuangan Kartini, hingga akhirnya berhasil membuat sekolah yang membuat harum namanya.

Lebih dari itu, Pak Tjondro adalah guru dan inspirator keteguhan dalam gerakan reforma agraria. Selain ibuku sebagai inspirasi, ia “Kartiniku” dalam memaknai perjuangan perubahan sosial, perubahan agraria yang lebih adil yang harus kutekuni sebagai perempuan. Guru yang membuatku yakin, reforma agraria patut diperjuangkan.

Tulisan ini dibuat pada 21 April 2020 — dengan beberapa perubahan kecil. Saat itu saya memilih Pak Tjondro sebagai sumber inspirasi di Hari Kartini. Tak berselang lama, 3 Juni hari ini, menerima kabar Pak Tjondro telah berpulang di usianya yang ke-92 tahun. Duka yang mendalam di hatiku. Doa dari serikat-serikat petani pun terus mengalir untuk beliau.

_Selamat jalan Pak Tjondro, guru kami yang santun, guru besar di kalangan gerakan reforma agraria. Warisan pemikiranmu akan abadi menemani langkah kami. Kami akan berikhtiar agar kelak pesanmu sampai…_

Jakarta, 3 Juni 2020

Dewi Kartika
Murid Pak Tjondro/
Sekretaris Jenderal KPA