Besok, Fatayat NU Sulsel Gelar Diskusi Virtual Perempuan dan Representasi Politik

ARAHBERITA.ID, MAKASSAR – PW Fatayat NU Sulawesi Selatan bakal menggelar diskusi virtual ‘Perempuan dan Representasi Politik’ pada Jumat besok, (12/2020) pukul 15.00 sore.

Diskusi mengugunakan aplikasi zoom. Jika bergabung silahkan login di Ngaji Pemilu Fatayat NU Sulsel di meeting ID 999 8101 7193 dengan pasword fatayatSS.

Kegiatan inj didasarkan pada pandangan Fatayat NU  Sulsel, terhadap potensi perempuan yang begitu signifikan dalam terlibat menentukan arah dan kebijakan politik sebelum dan sesudah pesta demokrasi.

Jumlah perempuan yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah semakin sedikit. Berkaca pada Pilkada Serentak periode 2015, 2017, 2018, representasi perempuan di dunia politik masih jauh dari amanah Undang-Undang Pemilu, yakni pemenuhan kuota minimal 30 persen.

Minimnya partisipasi perempuan untuk bertarung dalam Pilkada Serentak dinilai, karena rendahnya keberpihakan partai politik (parpol) terhadap calon dari perempuan.

Buruknya sistem kaderisasi dalam tubuh partai politik berdampak kurangnya daya tarung perempuan untuk berkiprah.

“Mandat minimal 30 persen jangan dimaknai hanya berlaku untuk pemilu legislatif. Perempuan hanya diberdayakan partai politik untuk pemenuhan sistem zipper dalam daftar urut pencalonan. Tetapi pemberlakuan 30 persen dalam kompetisi dalam Pilkada serentak, “ kata Mardiana Rusli, Ketua Presidium JaDi Sulsel.

Menurut Ana, sapaan mantan Komisioner KPU Sulsel itu, kegagalan partai politik mendorong perempuan, bisa dilihat dari dari jumlah kandidat perempuan di tiga tahapan Pilkada di Sulawesi Selatan.

Tentu saja ini menjadi pekerjaan rumah bagi partai politik. Sebab, pilkada ini menjadi kewenangan parpol dalam mendorong representasi perempuan dalam peta pertarungan kandidat perempuan.

Dalam pencalonan pilkada, parpol lebih condong melihat elektabilitas sosok calonnya tersebut dan mengabaikan representasi calon perempuan.

Jika dilihat dari segi integritas, calon perempuan lebih menjalankan mandat integritas ketimbang kandidat laki-laki.

“Keresahan ini harus terus dibunyikan dalam ruang-ruang diskusi sebagai ajang refleksi dan strategi gerakan perempuan untuk mengisi ruang-ruang publik, terkhusus di Pilkada yang akan digelar serempak,” kata Ana.

Kegiatan itu diinisiasi oleh PW Fatayat Nadhlatul Ulama Sulawesi Selatan bersama Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Sulsel dan Kemitraan/Partnership. Diharapakan diskusi daring itu akan memberi tambahan perspektif dalam memajukan peran perempuan dalam demokrasi.

Akan hadir para narasumber handal seperti Wahidah Suaib Wittoeng dari (Kemitraan/Partnership), Andi Yudha Yunus selaku Direktur LSKP), Saiful Jihad selaku Pimpinan Bawaslu Sulsel, dan Dr Anshar Taufiq M.Si selaku Pengurus JaDI Sulsel/akademisi).

Menurut ketua PW Fatayat NU Sulsel, Nurul Ulfah, kegiatan itu adalah salah satu rangkaian ‘Ngaji Virtual PW Fatayat NU’ dengan tema pemilu.

“Kita mendorong perempuan perempuan di Sulawesi Selatan untuk selalu cerdas dan melek politik, memberi partisipasi terbaik dan menggali lebih dalam representasi-representasi politik yang perlu didorong bersama, olehnya jangan lupa pada ikutan semua di ngaji pemilu,” katanya.